Rabu, 27 Maret 2013

Java Heat : Indonesia dalam Romantisme Turis Bule




Statement penulis : saya tidak akan membandingkan film ini dengan The Raid.


resensi oleh Maulvi DM

Bahkan sejak beberapa bulan sebelum diputar, Java Heat sudah menjadi perbincangan khalayak. Tentunya, yang menjadi bahasan utama adalah hadirnya Mickey Rourke yang notabene adalah aktor Hollywood untuk bermain dalam film yang bersettingkan Jogja dan Jawa Tengah ini. Kehadiran kedua aktor tersebut seakan-akan menggambarkan bahwa Java Heat adalah sebuah film berkaliber Hollywood. Benarkah?

Java Heat adalah sebuah film yang ditulis, diproduseri, dan disutradarai oleh Connor Allyn, orang yang sama yang juga membawa trilogi Merah Putih. Setelah Hati Merdeka menutup trilogi ini pada tahun 2011, Allyn mengerjakan Java Heat yang lebih ambisius: Tidak hanya film aksi yang dipenuhi tembakan dan ledakan-ledakan bombastis, namun kali ini diperankan oleh pemeran asli Hollywood, Mickey Rourke dan Kellan Lutz.

Java Heat dimulai dengan interogasi seorang Jake, (Kellan Lutz) akademisi bule yang selamat dari aksi serangan bom bunuh diri teroris dalam semacam acara resepsi semacam Kraton Kesultanan Jawa yang menewaskan seorang Sultana, (Istri Sultan? Diperankan oleh Atiqah Hasiholan). Hash(Hasyim, diperankan Ario Bayu), anggota Densus 88 yang menginterogasi Jake mencurigai bahwa ada kejanggalan di balik serangan bom ini. Hash sendiri juga menyimpan kecurigaan tersendiri pada Jake yang dianggapnya bukan benar-benar seorang akademisi. Dari interogasi ini kemudian diketahui bahwa Sultana tidak tewas. Lantas, ke manakah Sultana?

Di tempat lain, sang pemimpin teroris yang bersurban dan bergamis, Achmed (Mike Lucock), melaporkan keberhasilan operasinya kepada seorang bule bernama Malik (Mickey Rourke). Si Malik ini, digambarkan sebagai seorang bule yang cakap mengucap salam, tapi di sisi lain suka menaruh penari-penari Jawa yang berpose terus-menerus di kamarnya yang gelap, bersama dengan anak-anak lelaki yang kancing bajunya tidak dipasang. Artinya apa? Silahkan artikan sendiri. Mereka berdua inilah yang berada di balik serangan bom bunuh diri di resepsi Kraton itu.

Tidak butuh waktu lama bagi Hash yang letnan Densus 88 untuk membuka kedok Jake yang rupanya adalah Travers, seorang marinir AS (US Navy, Yeah!) yang sebenarnya juga sedang mengejar Malik. Mulai dari sinilah, Hash feat. Jake a.k.a Travers kemudian bekerja sama untuk membongkar jaringan terorisme Malik ini, dan menemukan Sultana. Di sisi lain, Malik juga ternyata memiliki agenda tersendiri dalam aksi terornya, terutama berkaitan dengan Kraton Jawa.

Semenjak awal cerita, Java Heat memang konsisten dengan judulnya (tidak seperti kebanyakan film tahun 2012 yang salah judul). Film berdurasi 103 menit ini sedari awal sudah mengeksploitasi Jawa sebagai sebuah langgam lanskap nan eksotis. Matahari senja dengan siluet candi Prambanan yang membuka film ini mengingatkan pada iklan Visit Indonesia 1993 Garuda Indonesia. Unsur ini demikian dominan sepanjang cerita. Kita bisa temukan di banyak adegan, terutama melalui sosok Malik yang rasa-rasanya orientalis, Jawa yang digambarkan dengan gadis penari yang selalu bergaya, wayang kulit, wedhang ronde, rumah-rumah berpintu ukir, andong, dan berbagai hal lain yang biasa kita temukan di kartu pos pariwisata.

Tidak hanya itu saja bahkan eksploitasi berlandas pariwisata ini juga muncul dalam dialog dan adegan yang sangat terkesan turisme sekali, dari pembahasan soal batik, pencak silat, istilah bule, penyebutan ‘mas’, hingga belakang-belakangnya jatuhnya juga ke nasi goreng, ‘This is Nasi Goreng. Fried Rice. Good for you..’ (hail Obama!). Banyak adegan yang dengan naifnya menggunakan lokasi wisata, seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan, Taman Sari, hingga Makam Kota Gedhe. Bagaikan setiap penonton film ini adalah turis bule yang datang bertamu dan berharap menikmati eksotisme jawa.

Sayangnya, kemudian Java Heat jatuh dalam kubangan turisme tersebut, yang dengan penuh gelora ingin memperkenalkan Indonesia ke mata dunia. Sebenarnya masuk akal ketika perkenalan ini banyak terjadi melalui Jake yang memang buta Indonesia. Akan tetapi intensitas yang berlebihan membuat ‘promosi budaya’ ini terasa terlalu mencolok.

Kubangan ekploitasi Jawa dengan perspektif turis bule ini kemudian mencapai titik terfatalnya ketika Allyn mencoba menggambarkan sebuah Kraton Jawa. Dengan penggunaan setting kota Jogja yang sangat eksesif, penyebutan Sri Sultan The Tenth sebagai pemimpin, mestinya penonton lokal sudah bisa menebak yang dimaksud Allyn sebagai ‘kraton jawa’ ini adalah Kraton Yogyakarta Hadiningrat. Tapi, bertolak dari konsep yang fiksi, Allyn mencoba lebih jauh mengembangkan konsep Kraton ini. Bahwa sang Sultana dari kraton ini digambarkan bagaikan Lady Di-nya Indonesia. Tunggu. Sebenarnya siapakah Sultana yang dimaksud?

 Menurut Wikipedia, Sultana bisa berarti istri Sultan, atau Sultan perempuan. Tapi film ini menjelaskan Sultana sebagai putri Sultan. Jadi mana yang benar? Ok, bahkan walaupun Sultana ini memang putri Sultan, warga Jogja tidak pernah sekalipun memanggilnya sebagai ‘Sultana’. Pemilihan sebutan Sultana ini terasa remeh, tetapi cukup menjelaskan mentalitas turis bule yang berasa bisa men-simpel-kan segala-galanya dan memanggil siapapun sesuai keinginannya.

Selanjutnya, hal yang masih belum bisa saya tangkap adalah Sang Sultan. Dengan Sultana yang digambarkan sebagai Lady Di-nya Indonesia, maka sang Sultan sendiri tentunya punya kewibawaan lebih tinggi di mata masyarakatnya. Dan kewibawaan ini digambarkan oleh Sultan yang dimainkan oleh... Rudi Wowor. Wow, tidak bisa dipercaya bahwa bukan hanya jagoan dan penjahatnya yang bule, tapi sultannya juga Bule!

Stereotiping gaya koboi ini juga hadir dalam penggambaran terorisme. Pokoknya, buat para orang bule ini, pelaku teror ini adalah orang Islam yang taat agama, berwajah bengis dengan jambang, menenteng AK, memakai baju takwa dan peci ke mana-mana, bahkan ketika pergi ke diskotek. Perilaku tidak mau repot riset ini menimbulkan disrespek yang akut, terutama akan muncul dari masyarakat Islam. Di sisi lain, selain penggambaran klise di atas, digambarkan pula sosok Malik, seorang yang dihormati para teroris ini, dengan nama Arab dan fasihnya salam dan basmalahnya, akan tetapi di saat yang sama suka menyimpan anak-anak kecil di dalam kamarnya. Bisa jadi di satu sisi Allyn sedang mencoba menciptakan karakter yang WTF, tapi di sisi lain, dia seharusnya sadar dia sedang berhadapan dengan masyarakat yang bisa main tembak sendiri 17 orang beramai-ramai pada pagi buta (Ya, tidak kalah WTF-nya).

Rangkaian bangunan deksripsi mengenai Kraton Jawa dan Islam yang terlalu luar biasa ini kemudian justru membuat lembaga ini menjadi tidak meyakinkan. Sulit (bagi setidaknya penonton lokal) untuk percaya bahwa film ini memang bercerita tentang Yogyakarta, Kraton Jogja, dan jaringan terorisme lokal aktual. Inilah yang sedikit banyak sangat mengganggu pikiran sepanjang film ini berjalan. Hal ini sebenarnya patut disayangkan, karena sebenarnya Java Heat menyimpan banyak potensi sebagai film yang baik.

Kebaikan pertama : Plot. Bukan suatu hal yang bagus-bagus amat, tapi Allyn menunjukkan perkembangan yang baik selepas trilogi Hati Merdeka. Kemauannya mengeksplorasi tema terorisme (walaupun stereotyping) dan mengangkat latar eksotisme Jawa (walaupun klise) menunjukkan kejelian Allyn terhadap isu kontemporer dan minat pasar. Sayangnya, pendekatan turisme bule yang dipakai Allyn membuat film ini begitu terbata-bata dalam ceritanya. Mungkin sebab paling utamanya adalah penyakit terjemahan bahasa, stereotiping gaya bule, dan lemahnya riset.

Kebaikan kedua : Setting-gambar-aksi. Perlu digaris bawahi, bahwa keberhasilan paling besar dalam film ini adalah antara segitiga emas antara matangnya pemilihan lokasi dan pengarahan seni Martin Williams, kuatnya konsep visual dan sinematografi film oleh Shane Daly, serta arahan laga Nick McKinless. Di luar penceritaan yang terkadang putus-nyambung dan bertele, indahnya lanskap urban dan rural Jogja serta serunya aksi tegang bisa membuat penonton terus bertahan di kursinya.

Kebaikan ketiga : Pemain. Bisa dibilang, selain Frans Tumbuan sebagai Pak Jenderal, setiap pemeran lokal dalam Java Heat bermain sangat optimal dan berkarakter. Lihat saja bagaimana Rifnu Wikana sangat dingin sebagai counterpart Hasyim dari Densus 88. Verdi Soelaiman, mungkin dalam peran stereotipikal pertamanya sebagai Cina yang Cina juga sangat kuat. Dan yang cukup menjadi scene-stealer meski hadir cukup singkat adalah Uli Auliani yang ‘aduhai seksinya’. Mungkin bisa jadi faktor begitu optimalnya mereka adalah kehadiran aktor luar seperti Lutz dan Rourke. Di sisi lain, Ario Bayu, Atiqah, dan Astri Nurdin justru tampil biasa sekali. Dan Mike Lucock tampil menyedihkan dengan tampang galak dan peci naifnya. Oh iya, aktris Rahayu Saraswati yang mendapat pendidikan akting di London dan Hollywood menurut Wikipedia, juga beberapa kali jadi kameo di film ini. Satu jadi mahasiswi UMY, satu lagi jadi pembawa berita radio.

Catatan lain dari sisi pemeran ini adalah bahwa terjadi kebingungan logat yang luar biasa dari pemeran lokal, berkaitan dengan penggunaan Bahasa Inggris di hampir seluruh bagian cerita. Setiap pemeran lokal serasa berusaha berbicara bahasa Inggris dengan baik dan benar. Hal ini menjadi tabrakan ketika justru Kellan Lutz bermain sangat santai.

Baiklah, sampai di akhir pembahasan. Seperti yang dibilang tadi, Java Heat pada dasarnya adalah sebuah paket film aksi dan ledakan bombastis, yang punya niat baik untuk membedah konstruksi terorisme di Indonesia, serta secara bersamaan memperkenalkan Indonesia, terutama pariwisatanya kepada dunia. Akan tetapi, bagaimana jadinya jika yang memperkenalkannya adalah turis bule juga? Mungkin tidak jauh juga dari orang Jakarta yang mencoba memperkenalkan Jogjakarta dalam berbagai FTV.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar