16/09/14

Kohlhaas: Sang Anak Tiri yang Dinanti




Resensi oleh Nara Indra


Apa yang akan dilakukan seorang sutradara film kolosal saat ia harus kehilangan pendanaan filmnya, hanya sehari sebelum hari pertama syuting? Apakah idealisme semata cukup untuk mengatasi permasalahan keuangan yang muncul saat pengambilan gambar dimulai? Premis inilah yang membuat saya tertarik untuk menyaksikan “Kohlhaas –Or The Proportionality of Means“ (atau Kohlhaas oder die Verhältnismäßigkeit der Mittel dalam bahasa Jerman). Film Kohlhaas merupakan salah satu film yang diputar dalam rangkaian acara German Film Festival yang diselenggarakan oleh Goethe Haus bekerjasama dengan Empire XXI Yogyakarta. Menurut salah satu panitia acara dari Goethe, film ini dipilih karena ceritanya dibuat berdasarkan pengalaman pribadi dari sutradaranya. Sutradara film Kohlhaas, Aron Lehmann,  bahkan menggunakan nama belakangnya sebagai nama dari sang tokoh utama (yang juga adalah sutradara).

Sebagai seorang pembuat film pemula yang selalu terbentur permasalahan dana saat memulai proses produksi, saya merasa sedikit terwakili setelah membaca sinopsisnya. Saya sedikit berharap sang sutradara Kohlhaas bisa memfilmkan pengalaman-pengalaman khas dari para pembuat film yang kekurangan dana dan harus memutar otak untuk menyiasatinya. Pada akhirnya, saya berharap bisa sedikit mengunduh kebanggaan sebagai sesama pembuat film ‘indie’ yang kere. Tetapi, apakah film ini hanyalah sebatas curhatan dari seorang pembuat film indie yang kere semata?


On Being an Indie

Penyebutan istilah “film indie” pada mulanya mengacu kepada sumber pendanaan film tersebut. Film independen, seperti namanya, biasanya didanai filmnya secara mandiri dengan uang pribadi atau mencari pendanaan melalui sponsor dan hibah dari lembaga-lembaga tertentu. Karena sifatnya yang mandiri, dunia film indie biasanya menawarkan konsep-konsep yang unik, cerita-cerita yang ada di luar kebiasaan, dan kesempatan untuk bereksplorasi seluas-luasnya. Kecenderungan ini muncul akibat kebebasan yang masih dimiliki oleh para pembuat film untuk mengembangkan idealismenya.

Kebutuhan akan adanya pemuas idealisme, imajinasi, dan kreativitas membuat banyak pembuat film indie yang terkesan egois dan keras kepala. Saya bahkan pernah menemui beberapa pembuat film indie dalam acara screening yang mengaku sama sekali tidak memperhitungkan faktor penonton saat membuat film-film mereka. Buat saya yang pemula, pemikiran semacam itu sama sekali tidak terpikirkan.

“Lha, kalo nggak ada yang nonton buat apabikin?”, begitu batin saya kala itu.

Di ajang diskusi yang lain, saya mendapatkan sedikit pencerahan dari seorang pembuat film lain. Ia berkata bahwa setiap film memiliki penontonnya sendiri-sendiri. Film akan diapresiasi oleh kumpulan penonton yang memiliki ‘frekuensi’ yang sama dengan film tersebut. Entah karena film tersebut sesuai seleranya, mewakili suasana hatinya, atau menggambarkan realitas yang pernah dihadapinya.

Tetapi apa jadinya bila frekuensi sebuah film tidak dapat ditangkap oleh para kru dan pemerannya sendiri? Apa yang terjadi bila seorang anak tidak dapat diterima oleh orangtua-orangtuanya sendiri? Apakah lantas ia terlahir sebagai anak tiri?

Kohlhaas menunjukkan bahwa ada banyak orangtua yang berpengaruh dalam kelahiran sebuah film. Ada produser (baca: uang), sutradara, kru, pemain, hingga warga sekitar tempat syuting. Lehmann sang sutradara terlalu menganggap dirinya sebagai orang tua tunggal setelah salah satu orangtua lainnya, sang produser (dan uang yang dibawanya) memilih untuk mundur. Lehmann kemudian berusaha berperan sebagai orangtua tunggal bagi film yang hendak digarapnya ini. Sayangnya, Lehmann berusaha terlalu keras.


Realitas yang Berkelindan

Apabila kita mencermati alur yang ditawarkan oleh film Kohlhaas,kita dapat melihat adanya tiga lapis realitas yang membentuk film ini. Realitas pertama adalah film yang sedang dikerjakan oleh sang sutradara. Realitas ini menggambarkan proses syuting dimana aktor-aktris dalam Kohlhaas sedang  memerankan film yang tengah mereka garap.  Dalam realitas pertama ini, kita diajak untuk menonton film-dalam-film yang tengah dikerjakan oleh Lehmann. Singkatnya,penonton diajak untuk menyaksikan bentuk nyata dari kreativitas Lehmann.

Realitas kedua adalah proses behind the scene film ini. Realitas ini menggambarkan proses-proses di luar kegiatan syuting seperti saat persiapan sebelum pengambilan gambar,  rehearsal,survey lokasi, casting pemain hingga keseharian para kru dan para aktris di lokasi. Sebagian besar konflik yangmuncul antara Lehman dengan para kru dan pemeran terjadi dalam realitas kedua ini. Di sinilah letak perbenturan ‘frekuensi’ yang terjadi di antara Lehmann dengan para kru dan aktornya. Inilah tempat dimana Lehmann harus berusaha menyesuaikan‘frekuensi’ tersebut.

Realitas ketiga adalah imajinasi yang berkutat di pikiran sang sutradara yang berkali-kali menyela proses syuting. Realitas ketiga adalah apa yang diinginkan Lehmann untuk filmnya, kru dan aktornya, serta dirinya sendiri. Keinginan tersebut mewujud dalam bentuk seorang wanita bergaun putih yang selalu datang di saat-saat genting. Atau tepatnya, sang wanita bergaun putih itu adalah perwujudan dari idealisme, kreativitas dan sisi kemanusiaan Lehmann yang juga membutuhkan penerimaan dari orang lain atas idealismenya.

Ketiga realitas tersebut dapat kita bedakan dari “mata” kamera yang dipakai oleh Aron Lehmann. Realitas pertama ditandai dengan kamera yang berperan layaknya kamera film pada umumnya. Ia merekam proses pengambilan gambar dengan angle, pencahayaan, pewarnaan, akting,properti dan keyakinan yang dimilikinya. Keyakinan itu dalam titik-titik tertentu bertentangan dengan logika kita sebagai penonton itu sendiri. Lehmann sendiri dengan entengnya menyuruh para kru (dan kita sebagai penonton) untuk menggunakan imajinasi demi menutupi kekurangan-kekurangan yang muncul dari film yang sedang digarapnya.

Salah satu hal yang tak masuk akal secara logika misalnya saat kuda diganti dengan sapi. Kohlhaas adalah cerita legendaris  tentang seorang penjual kuda, dan sapi (meskipun sudah ditambahi imajinasi segila apapun) tetap saja bukanlah kuda. Apalagi bila si sapi masih ngotot disebut dengan “kuda”dalam dialog-dialog filmnya. Meskipun begitu, tidak semua eksperimentasi dalam imajinasi Lehmann berbuah kegagalan. Adegan saat raja menerima surat Kohlhaas dari dalam toilet (karena Lehmann tidak punya properti untuk singgasana) merupakan salah satu trik yang cerdas. Didukung dengan tata kamera yang baik,adegan tersebut mampu mengadaptasikan penolakan sang Raja atas surat Kohlhaas secara tandas.

Realitas kedua adalah jembatan antara realitas pertama (film) dan ketiga (imaji sutradara). Realitas kedua bisa kita identifikasikan dari pengambilan gambar dengan teknik handheld saat juru kamera mendokumentasikan kegiatan di luar syuting seperti saat istirahat, diskusi naskah, survey lokasi, bahkan bertengkar. Realitas kedua ini adalah saat kita semua menyaksikan perbenturan antara realitas ketiga Lehmann yang bersifat privat dan realitas pertama yang ternyata bersifat publik. Pada kenyataannya, membuat film bukan pekerjaan pribadi. Aktor-aktris serta kru tetap harus dianggap sebagai pribadi-pribadi yang memiliki pikiran dan perspektifnya sendiri terhadap film yang tengah dibuat. Realitas kedua ini menyadarkan setiap sutradara bahwa ia berhubungan dengan manusia, bukan wayang.

Realitas ketiga dapat kita lihat dari tata kamera yang sedikit surrealis. Bagian ini menggambarkan hubungan yang intim antara Lehmann dengan sang wanita bergaun putih. Kamera didominasi oleh gambar-gambar close-up dan medium shots dengan coloring kamera bernuansa sephia seakan ingin mengatakan bahwa dunia ini berbeda dengan dua realitas lainnya. Realitas ketiga ini begitu mencolok secara visual sehingga di awal hingga pertengahan film, kita dapatdengan jelas melihat perbedaannya dengan dua realitas lainnya.

Pada akhirnya,ketiga realitas ini bercampur satu sama lain. Realitas ketiga (imajinasi) berusaha keras masuk ke realitas pertama (film) tapi harus melewati jembatan realitas kedua (behind the scene) yang rapuh. Secara visual, hal ini ditunjukkan oleh adegan-adegan yang mulai saling tumpang-tindih seperti saat proses syuting kita bisa melihat hal-hal seperti orang yang tengah menyiramkan air  sebagai efek hujan dan sejenisnya. Apabila mengacu pada teknis pengambilan gambar saat syuting, hal ini tentu dapat dikategorikan dengan “bocor”. Kondisi “bocor” semacam inisangatlah fatal, bahkan untuk ukuran pembuat film amatir sekalipun. Kekacauanmakin menjadi pada adegan-adegan yang makin tidak masuk akal menjelang film berakhir. Pada saat film ini berakhir dan credit title muncul, saya sendiri dihadapkan pada satu pertanyaan besar, apakah film Kohlaas yang tengah digarap ini juga sudah benar-benar berakhir?


Kohlhaas = Sepakat untuk Tak Bersepakat


Kohlhaas menyadarkan saya bahwa membuat film adalah sebuah kesepakatan. Entah itu kesepakatan itu harus dicapai dengan sponsor, dengan pihak-pihak yang terlibat seperti krudan pemain, atau bahkan dengan diri sendiri. Pada akhirnya, setiap pembuat film (indie atau bukan) tetap harusmemilih : film yang sempurna tapi tetap ada di otak atau filmagak-kurang-sesuai-harapan tapi jadi. Kesepakatan dan kompromi janganlah dipandang sebagai sesuatu yang tabu, karena pembuat film bukanlah orangtua tunggal yang mampu melahirkan film sebagai ‘anak’. Masih ada orangtua-orangtua lain yang harus diajak berembug demi kebaikan sang anak. Minimal, bersepakatlah dengan para kru dan pemain dari film-film kita. Karena bagaimanapun jadi atau tidaknya film, merekalah para penonton pertama dan terakhir darinya.

06/09/14

PERMEN VOUCHER, ROKOK RIAS




permen voucher, rokok rias | fauzi nur rohman & maulvi dm | november 2013 | 11m 17d


sinopsis

Bapak yang capai bekerja ingin merokok, tapi rokoknya habis. Maka Bapak menyuruh Ibu membeli rokok ke warung, tapi Ibu sedang asik nonton infotainment.

Permen Voucher, Rokok Rias adalah proyek pertama PTSF yang mendampingi anak-anak pelajar SMP Dusun Pondok untuk belajar membuat film.


kru

pembimbing produksi : Maulvi DM
sutradara : Fauzi Nur Rohman
asisten sutradara : Essy Sekar Safitri
kasting & kostum : Ririn Ardiana
sound & lokasi : Nur Anisa Dwi Anggita
art : Rizka Fitri Alifiya
kamera : Fauzi Nur Rohman & Irfani Reza
pencatat adegan : Muchlis Nur Setyo Waldanti
perlengkapan : Windi Dwi & Arya Chandra
ide cerita : Fauzi dkk
editor & produser : Maulvi DM


pemain

Agus
Essy
Arya
Ilyas
Rizka
Ridwan, Bintang, Langit, Ilham
Rofi, Novi, Ragil, Rama, Yoga


musik

menggunakan tanpa pamit

"Satu Ditambah Satu" - Herry SS

_________________________________________________________________________________


catatan produksi

Awal inisiatif pembuatan film ini adalah persiapan acara peringatan Hari Pahlawan di padukuhan Pondok, Condong Catur Sleman, yang kebetulan adalah dusun tempat Maulvi (M) tinggal. Panitia menawarkan spot kosong untuk persembahan anak-anak. Beberapa orang tua mengajukan diri untuk mengisi spot tersebut dengan acara tari-tarian anak-anak. Beberapa anak kecil yang suka main ke rumah M kemudian mengajak untuk membuat film, yang kemudian malang tak dapat ditolak. Bersama teman-teman dusun yang rata-rata masih SMP dan SD, M membentuk Anak Film Dusun Pondok dan sepakat untuk mengisi spot kosong pada acara peringatan Hari Pahlawan tersebut.

Keseluruhan proses produksi Permen Voucher Rokok Rias (PVRR) berlangsung pada bulan Oktober 2013. Minggu pertama digunakan untuk mengajak teman-teman yang berminat ikut, mengumpulkan ide, dan mengerjakan naskah bersama-sama. Cerita yang kemudian dipakai juga berasal dari curhatan teman-teman kru. Minggu kedua diisi dengan mencari lokasi syuting dan latihan membaca naskah. Minggu ketiga dan keempat adalah pengambilan gambar dan editing. Pada waktu pengambilan gambar, masalah terbesar yang dialami adalah cuaca yang tidak menentu. Jadwal yang awalnya sudah disusun rapi akhirnya berantakan karena hujan yang selalu turun lebat, terutama di sore hari, yang merupakan waktu utama syuting karena semua kru masih bersekolah.

Segala peralatan dan properti syuting disediakan oleh PTSF. Selain itu, Nara dan Ugo juga menyempatkan diri menjadi independent reviewer untuk naskah PVRR. Akhirnya film ini diputar pada malam peringatan Hari Pahlawan dan mendapat respon meriah dari warga dusun. Bahkan, Pak Teguh, kepala dukuh Pondok, masih membicarakannya ketika ceramah taraweh puasa tahun 2014.


12/09/13

Kompetisi Film dan Bagaimana PTSF Memaknainya



oleh Nara Indra


Sebermula adalah Kata         

Apa itu negara?? Menurut tafsir ilmu hubungan internasional, ada beberapa persyaratan bagi sah tidaknya ‘ke-negara-an’ suatu negara : memiliki wilayah, memiliki penduduk, memiliki pemerintahan dan tak lupa—diakui keberadaannya oleh negara lain. Tapi saya tidak sedang bicara tentang negara di sini. Ini untuk analogi saja (sebenarnya buat keren-kerenan sih).

Saya bicara tentang konteks Pull-The-String-Film (selanjutnya disingkat PTSF) dan eksistensinya sebagai sebuah komunitas film. Maunya!!

Lantas, apakah syarat untuk membentuk sebuah komunitas film??

Pastinya harus ada dua hal : ada komunitas dan ada film.

Komunitas itu dapat dimaknai sebagai kumpulan orang, tapi saya lebih nyaman untuk memakai istilah ‘sekumpulan komitmen’. Kenapa komitmen? Karena jujur saja, diakui atau tidak, hal itulah yang paling bisa mempertahankan apa yang lidah kita cecapkan menjadi kata komunitas. Pengalaman berkomunitas dan berproduksi menunjukkan bahwa sebuah tim memerlukan suatu tingkat komitmen dalam besaran tertentu agar dapat menyelesaikan sebuah film.

Rata-rata dari kami memulai proyek PTSF saat tengah berada dalam fase akhir perkuliahan. Hal ini tentu saja menyebabkan diri kami masing-masing harus bermain tarik tambang (untuk tidak menyebutnya dengan ungkapan klise ‘pergulatan batin’) melawan beberapa lawan kodrati : skripsi, tenggat lulus, pencarian kerja, kerja dan titian-titian masa depan lainnya. Tentu saja hal ini sangat menyita waktu dan pikiran. Padahal, produksi film itu sendiri juga menyita banyak hal yang sama. Kami merasakan sendiri susahnya mencari kru tambahan, pemain, bahkan mempertahankan anggota-anggota awal untuk tetap terlibat dalam keseluruhan produksi. Karena komitmen itu terlalu kecil untuk dibagi kepada banyak segi dalam kehidupan.

Saya selaku produser sering bersungut-sungut jika salah satu anggota kru tidak bisa menyelesaikan job description mereka, padahal beban kerja itu sudah sangat dikurangi. Di sisi lain, saya yakin para kru juga sering bersungut-sungut menyaksikan tingkah saya yang terkadang terlalu strict. Di sisi yang lain lagi, saya sering bersungut-sungut kepada diri saya sendiri bila semuanya tak berjalan lancar. Akhirnya tumbuh sungut asli di kepala saya, lalu saya berubah jadi lalat ijo dan terbang meninggalkan rapat. Zzuumm….zzuuumm..zuuuzmmm.

Tapi, entah kenapa, kendala komitmen ini selalu bisa disiasati dengan negosiasi dan serangkaian toleransi. I mean, a great doses of tolerance.  Melalui kendala ini pula, kami jadi lebih selektif dalam melaksanakan produksi dan belajar untuk berdiskusi menentukan waktu produksi yang tepat dimana masing-masing pihak bisa ikut serta. Saya sempat berpikir bahwa komitmen ini akan menjadi fait accomply saat shot pertama mulai diambil. Ya, saat kami sudah mulai mengambil adegan pertama dalam film, sudah tidak ada jalan untuk kembali lagi.

Unsur kedua adalah film. Apa itu film?? Nggak usahlah saya deskripsikan di sini. Mending saya bikin saja. Selanjutnya silahkan ditonton. Hehehe. Kata ‘film’ apabila dilekatkan dengan kata ‘komunitas’ akan membentuk suatu istilah ‘komunitas film’. Frase ‘komunitas film’ dapat diartikan jadi beberapa tipe tergantung pada fokus kegiatannya. Ada komunitas film yang kerjanya bikin film, ada yang fokus di pengkajian film, dan ada juga komunitas yang berkutat di masalah distribusi dan pemutaran film.

PTSF sendiri dimulai dengan tekad untuk membuat film. Sampai sekarang pun kami masih tetap fokus di pembuatan film, meskipun seiring perjalanan waktu kami makin menyadari pentingnya dua fungsi lainnya. Pengkajian film sangat berguna untuk referensi dalam meningkatkan kualitas film-film kami. Biasanya sesi pengkajian film PTSF terjadi secara tidak sengaja saat menunggu rapat dibuka atau menunggu kru yang belum datang. Sedangkan untuk fungsi pemutaran, kami sering terdorong untuk membuat pemutaran baik untuk konsumsi pribadi maupun bekerjasama dengan komunitas lain (kami punya ajang pemutaran STMJ—Screening Together Malam Jumat) bekerjasama dengan Tenananiki Pictures. Alasannya sederhana saja, kami membutuhkan ruang agar film kami bisa mencapai dua kodratnya  : (1) Diputar dengan teknis yang memadai—minimal dengan widescreen dan (2) Menyentuh khalayak yang lebih luas.

Terkait kedua poin tersebut, saya teringat cuplikan wawancara dengan Forum Lenteng saat pelaksanaan ARKIPEL 2013 dari artikel di Cinemapoetica.[1] Kalau tidak salah, salah satu narasumber menekankan pentingnya pengalaman sinematis dalam menyaksikan film. Pengalaman sinematis dalam konteks ini adalah adanya tempat yang representatif, kualitas gambar dan suara yang memadai, serta nikmatnya merasakan sensasi film sebagai sebuah apresiasi massa—teriak, tersenyum, berdecak kagum, bahkan mengeluh bersama. Hal itulah yang ingin kami bagi melalui pemutaran. Adalah suatu sensasi dan kebanggaan tersendiri bagi saya pribadi untuk menyaksikan perubahan mimik penonton saat menyaksikan film-film kami, apalagi terhadap film yang kebetulan saya sutradarai atau tulis naskahnya.

PTSF sendiri seringkali mencoba membuka ruang tonton dengan usaha-usaha sendiri—misalnya dengan memutar film di kantin dan pelataran kampus (dengan atau tanpa izin), di rumah kawan, hingga memanfaatkan voucher diskon di bioskop mini yang ada di kota kami. Intinya, kalau tidak ada yang memberimu ruang, rebutlah!! Untungnya, seiring dengan membaiknya peruntungan dan kualitas-kualitas film kami, beberapa kompetisi dan komunitas lain berkenan untuk memutarkan film-film kami. Pada akhirnya kami bersyukur bahwa film-film kami sempat diputar di Surabaya, Yogyakarta, Solo, dan Purbalingga. Hampir seluruh kesempatan pemutaran itu terjadi dalam kompetisi, atau muncul setelah kami berjejaring dalam kompetisi.

Nah, di sinilah letak pentingnya kompetisi : sebagai muara segala karya dan komitmen kami. Sesuatu yang memperpanjang napas kami.


PTSF dan Kompetisi

PTSF adalah komunitas yang pembentukannya dipicu oleh kompetisi film. Saya masih ingat pertama kali embrio PTSF disemai. Awal mulanya adalah saya dan Maulvi DM. Tidak usahlah diperdebatkan siapa yang sperma siapa yang ovum di antara kami. Pokoknya kami berdua jadi embrio, PTSF. Itu saja.


Waktu itu, sekitar pertengahan tahun 2010, saya tengah berkeliaran tak tentu arah di taman Fisipol. Di tengah (almarhum) amphiteater saya melihat Maulvi sedang bengong sambil memegang secarik kertas lusuh. Ternyata itu adalah pengumuman kompetisi (saya masih ingat betul) FIAGRAMOTION oleh UKM Fiagra (Film Anak Grafika) yang berbasiskan di Fakultas Teknik UGM. Langsung saja saya menyambar,“Mau ikut ndak, Mol??”. Sontak dia langsung menyetujuinya. Lalu kami berdua langsung menyusun rencana untuk merekrut kru, pemain dan merencanakan cerita. Akhirul kata, kami berhasil menyelesaikan film pertama kami “REVERIE” yang langsung diikutsertakan di FIAGRAMOTION, dan syukurnya meraih gelar “Poster Terbaik” dan “Editing Terbaik”.[2]



Kesimpulannya, kompetisilah yang menjadi pemantik kami semua untuk berkarya. Kami bisa merekrut kru, pemain, mengikat mereka dengan komitmen seringkali juga dengan iming-iming filmnya ‘bakal ikut kompetisi’.  Dan hal itu tetap berlangsung sampai sekarang.

Pertanyaannya, kenapa kami harus mendompleng kompetisi untuk itu semua??

Jawaban saya hanya satu : karena alasan orang-orang yang terlibat dalam produksi sebuah film terkadang tidak sama. Atau dengan istilah lain, tidak semua memiliki gairah yang sama terhadap film. Sebagian kru, pemain, maupun orang-orang lain yang memandang pembuatan film dengan perspektifnya masing-masing. Ada yang hanya sekadar ingin membantu, ada yang ingin mengisi waktu luangnya, ada yang memang benar-benar tertarik,  ada yang (mungkin) kasihan sama kami-kami ini dan lain sebagainya. Tidak ada yang salah dengan ini, bahkan kecenderungan ini sangat membantu proses produksi menjadi lebih cair dan asyik. Hal ini merupakan sesuatu yang tak terelakkan, mengingat PTSF sebagai komunitas sendiri sangat longgar dan tentu saja berbeda dengan komunitas atau rumah produksi yang profesional.

Dengan adanya kompetisi, setidaknya kami bisa meyakinkan rekrutan-rekrutan kami bahwa kami di sini tidak sedang main-main. Dan kami memang tidak pernah akan main-main lagi. Terlalu banyak hal yang dipertaruhkan serta terlalu banyak hal yang dikorbankan untuk sekadar main-main. Tapi, itu tak berarti pula bahwa kami akan menjadi terlalu serius. Atau, bisa dibilang, biarkanlah saya sebagai produser jadi satu-satunya orang dengan kening berkerut di dalam produksi. Sebisa mungkin saya ingin yang lain tetap tersenyum dan tertawa-tawa. Syukur-syukur ada yang naksir saya. Hihihihi.


Bagaimana Kompetisi Membentuk Kami

Saya harus akui bahwa kompetisilah yang membentuk PTSF. Ada beberapa hal yang membuat kompetisi memberikan pengaruhnya kepada kami.

Dalam memproduksi sebuah film, saya belajar bahwa visi dan misi adalah hal yang sangat penting. Visi dalam konteks ini berarti tujuan pembuatan film ini harus jelas : apakah ada pesan-pesan atau hal tertentu yang ingin disampaikan. Adakah hal-hal tertentu yang ingin dicapai, baik secara teknis maupun nonteknis. Atau dalam ranah yang lebih konkrit : apakah cerita yang ingin diangkat ke film itu menarik??.

Itu permasalahan pertama.

Permasalahan kedua adalah misi : hal konkrit apakah yang ingin dicapai setelah film ini jadi. Di sinilah letak pentingnya kompetisi seperti yang telah saya singgung sebelumnya : sebagai muara dari karya dan, thus, komitmen kami yang meraga dalam visi tersebut. Kompetisi adalah tempat dimana film menemukan jodohnya, begitu kata Bowo Leksono, Direktur Cinema Lovers Community dan salah satu tokoh perfilman berpengaruh di Banyumas Raya. Dan mencari jodoh itu tidak mudah. Apalagi buat film.

Kompetisi film yang ideal biasanya membuka deadline pendaftaran antara 3 hingga 6 bulan sejak pertama dipublikasikan. Rentang waktu ini sangat membantu kami untuk membuat perencanaan produksi film, mulai dari pra-produksi (persiapan naskah, pemain, properti, set, penjadwalan, budgetting dll), produksi (syuting) dan pasca-produksi (editing, sound-mixing, original soundtrack, syuting ulang dll). Rentang waktu juga berpengaruh akan ketersediaan waktu dari masing-masing kru maupun pemain. Makin panjang rentang waktunya, makin banyak waktu kami untuk mempersiapkan diri. Makin banyak waktu persiapan, maka makin banyak pula waktu kami untuk menyempurnakan si film.

Inilah arti penting pertama dari kompetisi : ia membentuk pola kerja kami.

Kompetisi sudah dapat dipastikan berarti pencapaian. Minimal wujud fisiknya terkirimkan ke panitia, meski entah bagaimana kelak nasibnya, setidaknya ia tak hanya berdiang hangat di bilik-bilik data komputer. Minimal, ia bisa diputar dengan standar teknis yang tidak akan pernah bisa kami capai dalam pemutaran mandiri. Minimal, ia bisa menemui audiens yang tidak pernah bisa kami capai dalam pemutaran mandiri. Minimal, ia bisa mempertemukan kami dengan sesama penggiat film yang mungkin hanya kami kenal profilnya di internet. Maksimal, ia bisa menang.

Kemenangan dan pencapaian dalam sebuah kompetisi akan menjadi pondasi bagi film kami selanjutnya.  Inilah fungsi kedua dari kompetisi. Pondasi dalam konteks ini dapat kita lihat ke dalam dua hal : secara moral dan secara modal. Pondasi moral, sederhananya, muncul dari perasaan bangga saat melihat film kami diputar di layar lebar dan disaksikan banyak orang.. Atau saat salah satu dari kami maju ke panggung untuk mengambil piala. Atau saat ada orang yang memandang ke arahmu dan berkata, “saya suka filmnya.” Trus, kapan sukanya sama yang bikin, mbak?? Hihihihi. Kemenangan tentu saja akan mendongkrak rasa bangga dan tingkat kepercayaan diri kami  di PTSF. Itu adalah modal yang berharga.


Pondasi modal tentu saja mengacu pada hadiah uang yang kami terima. Sebagai komunitas yang tidak bergerak dalam ranah komersial yang terkadang bikin sial itu, kami seringkali harus tombok untuk memproduksi film. Atau mencari pekerjaan sambilan seperti menjadi kru dokumentasi seminar kampus, misalnya. Uang hadiah adalah penyelamat yang signifikan bagi keuangan film, thus, keuangan pribadi kami tentu saja. Sejak kemenangan pertama kami dalam film Space pada medio 2011, produksi-produksi berikutnya selalu didanai oleh uang hadiah lomba. Kemenangan Space dan Persimpangan (2011) memberi jalan bagi pembuatan Penghabisan (tahun produksi 2012). Kemenangan Penghabisan (2013) rencananya akan kami pakai untuk memproduksi film di akhir tahun ini. Belum lagi bila kita turut memperhitungkan biaya-biaya lain seperti biaya pengiriman paket dan pengemasan CD untuk lomba.



Fungsi ketiga kompetisi adalah membangun jaringan. Kompetisi film adalah kesempatan yang besar bagi PTSF untuk keluar sejenak dari tempurungnya dan melompat-lompat bagai katak di musim penghujan. Pada akhirnya PTSF akan menemui katak-katak lain yang jauh lebih besar, terkenal, dan superior. Kami akan bersama-sama berinteraksi, berbagi, bersaing dan saling belajar dalam suatu kolam besar yang bernama kompetisi film. Mungkin setelah itu masing-masing akan kembali ke tempurungnya masing-masing atau mencari kolam lain, semua terserah kebutuhan dan orientasi masing-masing. Yang pasti kami tidak hanya menemui katak-katak semata. Kami bertemu dunia luas yang hanya berbatas cakrawala.

Dalam Festival Film Solo 2013, kami menjumpai kawan-kawan komunitas dari Purbalingga yang umurnya mungkin hanya setengah dari umur kami. Tapi dalam perkara prestasi, mereka sangat jauh melebihi PTSF. Kami juga berkesempatan bertemu dengan komunitas dari Palu, Solo, Malang, Jakarta, mas Senoadji Julius dari Fourcolours Films Yogyakarta dan masih banyak lagi. Tentu saja pertemuan itu tidak kami sia-siakan, karena karya-karya mereka makin meluaskan referensi sinema kami. Bahkan, kami berkesempatan untuk melakukan pemutaran dan diskusi di Purbalingga dengan kawan-kawan komunitas CLC (Cinema Lovers Community) setelah merawat jaringan yang dirintis kala FFS. Partisipasi kami dalam beragam kompetisi-kompetisi film juga sedikit banyak mendekatkan kami dengan kawan-kawan penyelenggara yang rata-rata juga merupakan anggota komunitas film di berbagai daerah. Interaksi kami degan kawan-kawan programmer dan panitia tersebut pada akhirnya memberikan masukan positif bagi PTSF sendiri

Terakhir, kompetisi dapat membuat kami semua tetap mawas diri. Untuk itu, mari saya ceritakan pengalaman pahit yang menjadi pelajaran 6 SKS sekaligus bagi PTSF.

Alkisah, di bulan Agustus-November tahun 2012 lalu kami mendapatkan banyak sekali informasi dan undangan untuk mengikuti kompetisi-kompetisi berskala besar. Beberapa di antaranya adalah Europe On Screen, XXI Short Movie Competition, Jambore Film Nasional dan bahkan undangan mengikuti FFI (Festival Film Indonesia). Sebagai komunitas kecil yang baru saja memenangkan satu kompetisi, kaki kami bak menapak udara. Atau bahasa Ibrani-nya : kepedean. Dengan stok film yang sebenarnya masih sangat minim, kami nekat mengikuti hampir semua kompetisi itu. Padahal beberapa di antaranya mengharuskan kami membayar biaya pendaftaran yang cukup tinggi plus ongkos kirim yang juga besar karena rata-rata kompetisi itu dilaksanakan di Jakarta. Dan hasilnya pun bisa ditebak, tidak ada satupun film kami yang menang. Jangankan menang, masuk nominasi pun tidak. Bayangkan bagaimana optimisme yang kami bangun dari awal seketika mengempis bagai balon udara di Sekaten yang seketika mbledhos karena terkena jarum. Ya, jarum takdir. Dan ketidakbijaksanaan kami tentunya.

Selain merasa frustasi, peristiwa yang sering disebut oleh Maulvi DM sebagai ‘November Kelabu’ itu mengakibatkan kami mengalami krisis keuangan yang cukup mengganggu. Akibatnya, proses produksi kami selanjutnya (saat itu kami tengah menggarap naskah yang kelak menjelma menjadi “Resepsi”) mengalami kebuntuan. Pahit memang, namun selalu ada yang bisa kami cecap dari kepahitan. Hal ini membawa kami pada satu metode baru dalam kinerja kami : proses kurasi internal. Secara sederhana, proses kurasi internal PTSF terdiri dari beberapa tahapan : pengumpulan informasi lomba, analisis konten lomba (visi dan misi lomba, komposisi juri, preferensi juri, background penyelenggara, pemenang-pemenang terdahulu dll), penentuan film-film yang akan dikirimkan beserta peluangnya, pengecekan budget dan akhirnya dikirimkan. Saya pribadi tertarik  mengistilahkan proses ini dengan frase “bribik-bribik metodologis”. Berkat kontribusi dari seluruh anggota dalam proses kurasi ini, akhirnya kami bisa menemukan solusi untuk ‘menemukan jodoh bagi film kami’ seperti yang telah saya singgung di atas. Sebagai orang tua yang baik (dan sedikit galak), tentunya kami tak mau ‘anak’ kami mendapatkan jodoh yang buruk, dong??

Kemawasan diri yang dibawa oleh kompetisi juga diakibatkan oleh interaksi kami dengan karya-karya sineas lain yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata (hey, bukankah yang saya bold itu juga kata-kata?? Dasar frase yang aneh!!). Kami jadi insyaf bahwa ada banyak tempat dimana kami bisa menengadahkan kepala dan belajar. PTSF belumlah menjadi apa-apa. Katak ini pada akhirnya selalu akan menemukan  langit-langit baru untuk menggantikan tempurung lama kami. Dalam dunia perfilman independen ini, kami tidah berhak dengan seenaknya menapaki udara kosong dan merasa sombong. Karena sangat banyak sineas-sineas di Indonesia yang karya-karyanya secara de facto telah menapaki langit sementara para pembuatnya sendiri masih berpijak dengan tenang di bumi. Lantas, siapakah kami??


Sesudah Lelah Menulis dan Tentang Pojokan Masa Depan

Dalam obrolan intens di penghujung kemahasiswaan, beberapa dari kami sempat mempertanyakan sampai kapankah PTSF bisa terus berjalan.  Waktu itu saya hanya berpikir, “Terserah kapan saja, asal jangan sekarang.” Pemikiran itu pun sampai saat ini belum berubah. Meskipun saya sadar, di tahun 2013 ini, banyak dari kami (termasuk saya sendiri) yang sudah harus bersiap untuk meniti langkah lain di masa depannya. Asal jangan sekarang!

Mungkin kami akan terus membuat film sampai satu per satu dari kami meninggalkan Yogyakarta. Mungkin juga tidak. Mungkin kami akan terus mencoba bertahan dengan merekrut kawan-kawan baru. Mungkin juga tidak. Mungkin kami akan berhenti begitu saja. Mungkin juga tidak. Toh, kalau saya boleh sedikit berfilsafat, bukankah kehidupan adalah semata-mata ayunan bandul antara kemungkinan dan ketidakmungkinan??

Yang pasti PTSF kini tengah bersiap untuk merencanakan produksi selanjutnya. Dan lagi-lagi produksi ini dipicu oleh kompetisi-kompetisi yang setidaknya akan menunggu kami tahun depan. Kompetisi adalah salah satu faktor utama yang mempertahankan bandul kami untuk tetap berada di sisi ‘kemungkinan’, meskipun di dalamnya terselip pula kemungkinan untuk terperosok ke dalam ‘ketidakmungkinan’. Jadi, sebagai penutup tulisan ini, saya ingin mengucapkan terimakasih bagi kawan-kawan yang selama ini telah menyelenggarakan kompetisi-kompetisi bagi kami. Terimakasih telah menyediakan kolam bagi kami yang seringkali terperangkap dalam tempurung katak ini. Terimakasih karena telah mendorong kami untuk mengukirkan karya. Terimakasih telah menyediakan rumah bagi kami untuk pulang.
          

Yogyakarta, 8-10 September 2013



[1] http://cinemapoetica.com/wawancara/arkipel-forum-lenteng-dan-eksperimentasi-sinema/
[2] Sekadar catatan tambahan, di tahun 2013 ini kami akhirnya berhasil memenangkan beberapa gelar di FIAGRAMOTION 2013 dengan film “Penghabisan”, termasuk gelar “Best Film”. Gelar ini sangat berkesan karena sekaligus untuk ‘melepas’ beberapa kawan angkatan awal PTSF yang sudah hijrah menjemput masa depan; Agi Ekasaputro, Danistya Kaloka dan Lalik Mustikowati.