21/05/12

STMJ#1 (Screening Together Malam Jum'at)



STMJ#1 (Screening Together Malam Jum'at) adalah sebuah kegiatan bersama pemutaran film-film pendek dari PTSF dan Tenanan Iki Pictures, yang akan diadakan pada Malam Jum'at mendatang, tanggal 24 Mei 2012. Dalam kegiatan ini, akan diputar kurang lebih sepuluh film produksi PTSF dan TIP, di mana acara ini juga merupakan premier screening bagi SPACE, feature terbaru-nya PTSF. STMJ#1 akan diadakan di Kantin Fisipol UGM, dan akan dimulai ba'da maghrib.


Ayo, silahkan beramai-ramai mendatangi acara ini!! ^.^

18/05/12

Belajar dari Reverie dan Bram The Stalker

Namanya juga kelompok belajar film, maka kita harus rajin-rajin mengambil hikmah dari kejadian-kejadian lampau untuk kemudian dapat belajar dengan lebih optimal dalam bidang ini. Sebenarnya, Reverie dan BTS bisa dikatakan bagi penulis, belum sesuai dengan ekspektasi/ impian dalam PTS, tapi tentu saja karena ini proses, maka kita harus pelan-pelan. Nah, dari sinilah, kami akan rilis beberapa pelajaran yang dapat diambil dari pembuatan Reverie dan BTS:

1. Membuat cerita yang baik dan benar. Cerita adalah satu bentuk penyampaian ide dan gagasan, jadi pada dasarnya, cerita bisa dikatakan baik ketika penonton mampu mendapatkan ide dan gagasan yang ingin disampaikan. Itu, baru cerita yang benar. Tapi, bagaimana dengan cerita yang baik? Cerita yang baik tentu saja, cerita yang baik. Ehm, maksudnya, cerita tersebut dapat memberi efek yang menghibur (dalam artian luas) bagi penontonnya, artinya dapat memberi 'sesuatu' bagi penontonnya. Kalo film horor misalnya, penonton jadi takut, ato kalo film thriller misalnya, penonton jadi ketar-ketir.

Pada dasarnya, dengan bentuk media yang spesifik, di mana film lebih fokus pada media suara dan gerak, maka bagaimana menghantarkan sebuah cerita dengan efektif dan membuat cerita yang baik yang ideal untuk difilmkan menjadi sebuah tantangan tersendiri. Film berhubungan dengan durasi. Kalo film pendek, maka durasinya kurang lebih 5 - 10 menit, dan idealnya ceritanya adalah tipikal cerita pendek/cerpen. Seperti yang ditulis Lalik di blognya, Bram The Stalker terasa agak aneh ditonton karena 'tidak memberikan waktu untuk menghela nafas bagi tokohnya'. Inilah yang dimaksud. Kalo ceritanya panjang, tapi dalam satu durasi yang pendek, maka penonton tidak akan punya waktu untuk meresapi tiap adegan. Walau demikian, sebenarnya tidak menutup kemungkinan untuk membuat satu cerita yang lengkap dalam satu film pendek, seperti dalam film pendek 'The Sign', dan itu juga bisa menjadi bahan belajar juga, gimana cara membuat naskah menjadi lebih efektif dan enak dinikmati.

2. Waktu. Waktu adalah hal yang sangat krusial bagi setiap pemula. Apalagi dalam sebuah produksi di tengah kesibukan kuliah, maka memang seharusnya pengaturan waktu jadi satu departemen yang penting. Apalagi dalam sebuah produksi dengan jumlah scene yang besar, maka, penggunaan waktu semakin harus benar-benar jelas.

Sejauh ini, di PTSF sendiri division of labour yang ada masih blur sehingga seringkali, para kru yang terlibat dalam produksi hanya berkutat pada masalah teknis pembuatan. Padahal, kru yang berfungsi sebagai manajer yang tidak harus berhubungan dengan tetek bengek teknis sinematografi juga memiliki fungsi penting, seperti kepengurusan izin, pengaturan jadwal dan waktu syuting, dan lain sebagainya. Fungsi manajerial inilah yang saat ini masih sangat jarang, meskipun sudah mulai dibentuk. Keberadaan manajer akan mempermudah pengaturan waktu yang terutama bagi teman-teman PTSF sangat sedikit, karena terbatas pekerjaan dan kuliah.

17/05/12

Lovely Man: Intensity, Intimately



resensi oleh Maulvi


Meski agak sangat terlambat, tapi rasa-rasanya harus juga saya me-review film satu ini, soalnya masak saya mereview The Raid dan Tanda Tanya sedangkan Lovely Man menurut saya lebih baik daripada kedua film ini? Jadi biarpun udah telat hampir setahun mungkin setelah film ini dirilis di Hong Kong, tetaplah akan kita review lagi film ini.

Baiklah, Lovely Man adalah satu karya dari Teddy Soeriaatmadja, sutradara yang dari jaman pertama muncul selalu idealis dan suka bereksplorasi secara sinematika, berbeda dengan kebanyakan sutradara Indonesia era baru lainnya yang lebih sering berkutat di penceritaan dan tema. Karya-karya sebelumnya  konsisten: selalu aneh, dalam artian selalu membawa suatu hal yang baru. Banyu Biru, jelas aneh dengan segala awkwardness-nya. Rumah Maida memulai genre baru film yang mengeksplorasi gaya tempoe doeloe dengan soundtrack yang sangat kuat dan sekarang bisa dilihat 'terusan'-nya dalam Soegija-nya Garin. Ruang yang jelas memang senang bermain-main dengan gaya yang vintage. Hingga Badai Pasti Berlalu dan Namaku Dick yang.. anehnya biasa aja. Tapi dalam Lovely Man, Teddy benar-benar membawa suatu hal baru yang saya kira belum pernah saya benar-benar temukan dalam film Indonesia, meskipun style ini terkadang muncul dalam style-nya Garin dan Riri era awal.

Lovely Man dibuka dengan sesosok manusia berjalan tertatih menembus subuh Jakarta, melewati petak-petak apartemen kumuh, aspal-aspal kasar, lapangan umum yang kusam. Kamera mengikuti sosok pria berpakaian seronok ini yang berdarah-darah, kembali ke sarangnya yang durjana, gelap, suram, dan dalam keran shower kamar mandinya yang seperti menangisi kepulangannya, sang pria menatap kosong, seakan meratap ke langit-langit yang sempit. Ya, inilah awal perkenalan kita dengan Pak Syaiful (Donny Damara), yang kalau malam dipanggil Ipuy. Opening titel film ini tidaklah istimewa, jika tidak bisa dibilang tidak begitu baik. Mirip FTV. Akan tetapi perhatian akan langsung terseret pada langkah-langkah gontai Ipuy ini, dengan dihantui sepatah dua patah dentingan musik latar yang kasar, diimbuhi suara-suara latar yang mengganggu. Ya, sepuluh menit pertama film ini sudah dapat memperkenalkan bagaimana film ini akan membawa penontonnya sepanjang pertunjukan. Kamera yang hand-held dan verite, warna-warna kusam yang mencolok, berpendarnya warna Jakarta, dan suara-suara latar yang akan kita temui di bagian terkumuh Jakarta.



Di tempat lain, seorang gadis berkerudung dalam perjalanan kereta ekonomi menuju Jakarta. Cahaya (Raihannun), seorang gadis pesantren yang alim dan rajin sembahyang, dalam perjalanan mencari ayahnya, yang telah menghilang selama 15 tahun lebih, meskipun selama itu pula tidak putus mengirimkan nafkah batin dari Jakarta. Bukan hal yang sulit, dengan alamat di tangan, untuk mencari tempat tinggal ayahnya, meskipun kemudian segala harapan dan ekspektasi Cahaya runtuh seketika ketika bertemu dengan sang ayah dalam kondisi yang tak pernah dia bayangkan sampai mati juga: berdandan dan bergincu tebal, berbaju seksi merah menyala lengkap dengan stockingnya, serta memamerkan paha dan celana dalamnya kepada setiap pengendara di pinggir jalan. Ayahnya adalah seorang waria. Dan disinilah segala cerita dimulai.

Cerita yang disodorkan Teddy bukanlah sebuah kisah yang bombastis dan 'menggugah iman'. Bukan pula kisah yang 'idealistis dan pro femininitas' seperti pola sutradara-sutradara seangkatannya yang kini sudah sukses. Dengan modal yang sama, Teddy menggali sesuatu yang sederhana, kontradiksi-kontradiksi dalam kehidupan, serta bagaimana hal tersebut dapat berpadu harmonis dalam sebuah kota bernama Jakarta. Bukan fakta yang indah bahwa ternyata biaya pesantren bertahun-tahun Cahaya ternyata berasal dari burung lelaki-lelaki yang dihisap ayahnya. Cahaya sendiri, dibalik segala kealiman dan ketaatannya pada agama pun memiliki rahasia tersendiri, yang begitu mudahnya dipahami sang ayah. Kontradiksi-kontradiksi pinggiran ini saja tidak cukup karena sudah banyak film2 serupa yang menggali kekumuhan Jakarta, tapi tampil preachy. Di sinilah Teddy membalut kisah ini dengan dialog-dialog yang tidak luar biasa, tapi begitu wajar dan menarik. Dialog antara anak dan ayah sembari menyusuri dini hari Jakarta menjadi porsi utama dalam film ini, hampir mengingatkan pada Before Sunrise-nya Linklater yang serupa menggelitik dialognya. Tetapi, dengan bekal karakter yang lebih dalam dan kuat, Teddy memiliki ruang lebih jauh dalam mempermainkan dialog tersebut. Meskipun demikian bukan berarti skenarionya tanpa cela. Seperti layaknya film Indonesia, dialog Lovely Man hampir terperosok pada bahasa-bahasa klise pada pertengahan akhir cerita, ketika nasihat-nasihat baik mulai bertebaran, meskipun tidak sampai mengganggu mood yang sudah terbangun.


Di sisi lain, kuatnya skenario ini didukung oleh kuatnya adu akting kedua pemerannya, Raihannun dan Donny Damara. Yang satu bekas bintang remaja, yang satu bekas pemain sinetron. Tapi, di film ini mereka seakan menjadi orang lain, yang penonton hanya mau mengenal mereka sebagai Cahaya yang manis dan Ipuy yang lovely. Salah satu adu kekuatan akting mereka yang paling kuat bisa dilihat pada adegan ketika pertama kali bertemu. Saking seriusnya akting mereka dalam adegan itu, sampai-sampai Donny sempat disamperi warga sekitar karena dikira mau ngapa-ngapain gadis alim itu. Kesungguhan Donny dalam menyelami Ipuy begitu kuat, ditambah wajahnya yang agak metroseksual. Keberanian Donny ini menjadi pameran akting sepanjang film. Saya jadi ingat Tony Leung di Happy Together yang juga beradegan cukup berani di awal film. Mungkin, satu-satunya hal yang mengganggu dari Ipuy adalah bahwa lengannya begitu kekar. Walau bukannya tidak ada waria berotot, nampaknya jika Ipuy lebih kurus, maka dia akan tampak jauh 'lebih cantik'. Cahaya, eh, Raihannun sendiri juga berhasil menjadi Cahaya yang masih bingung dengan masa depannya, tetapi cukup berani untuk menerima fakta paling aneh tentang ayahnya. Hanya saja, terkadang -sangat terkadang-, logat modern kelas atas Raihannun sempat nyempil, terutama ketika beberapa patah naskah memang terdengar agak kota, ketimbang desa maupun pesantren.

Dan departemen yang juga sangat kuat adalah sinematografi, art, dan sound editing. Ketiganya saling mendukung untuk membentuk imaji Jakarta yang dingin, rapuh, dan begitu 'sunyi'. Gambar-gambar dengan latar berpendar, over blur, grain yang kasar, dan pergerakan hand-held yang begitu aksidental, mengikuti secara tergopoh dan terkaget-kaget berbagai peristiwa yang dialami dua insan ini. Gaya-gaya ini sebenarnya sudah muncul beberapa tahun belakangan ini terutama dari kalangan filmmaker indie yang hanya berbekal kamera DSLR yang merekam dunia urban yang tak tersentuh film-film konvensional. Dan untuk Indonesia, Teddy-lah yang berhasil mengaplikasikannya pertama kali di layar lebar (dan dia MEMANG menggunakan DSLR-Canon 7D- untuk film ini, ketahuan dari sekali adegan bocor yang memperlihatkan bayangan kamera). Gaya perekaman ini membuat film ini menjadi begitu low-profile, dan dengan mudah mengintimkan penonton dengan karakter dan dunia mereka yang kelam. Meskipun agak kasar (dan mengingatkan pada film-filmnya Aria Kusumadewa) di adegan pembukanya, tetapi dengan baik sound editing film ini juga menemani departemen visual dalam merangkum suasana Jakarta dini hari. Dan ini masih ditambah musik yang nggak klise, dan dengan rendah hati memberikan bagian-bagian terbaiknya pada komposisi Claire de Lune-nya Debussy, yang sangat sweet, dark, dan dreamy, seakan menggambarkan sebagaimana lovely-nya Ipuy dan dunianya.

Buat saya sendiri, menonton Lovely Man adalah sebuah pengalaman baru yang susah dicari penggantinya. Meskipun demikian, tapi tidak begitu nampaknya bagi para penonton Indonesia. Ketika saya pergi memesan tiket satu jam sebelum pertunjukan dimulai, baru tiga orang yang sudah membeli tiket untuk Lovely Man. Bahkan ketika pertunjukan dimulai, jumlah penonton yang hadir di studio tempat saya menonton bisa dihitung dengan jari satu manusia. Hal ini tidak bisa ditampik, terutama karena faktor promosi yang sangat kurang dari film ini, yang seakan hanya bertumpu pada kabar awang-awang tentang kemenangannya di berbagai festival film internasional. Hal yang sama sedikit banyak juga dialami Modus Anomali, meskipun Modus lebih tinggi animonya karena adegan Ibu hamil yang kontroversial itu. Di sini, mestinya film Indonesia bisa belajar mengelola promosi filmnya, terutama karena Lovely Man sebenarnya memiliki wild card  yang jarang dimiliki film-film Indonesia lainnya-penghargaan internasional. The Raid bisa menjadi contoh yang baik. Produksi Evans sebelumnya, Merantau, hampir mirip Lovely Man. Berhasil di festival tapi gagal di pasaran. Kemudian, Evans memperbaikinya dengan mem-boost promosi The Raid melalui pemberitaan-pemberitaan viral yang heboh di berbagai media sosial di internet. Sedangkan di sisi lain, justru Lovely Man mendapat viral negatif setelah dihentikan pemutarannya oleh FPI dalam Q! Film Festival 2011. Padahal menurut saya, dari sinilah sebenarnya muncul satu lagi wajah perfilman Indonesia yang lebih realistis, dan lebih indah tanpa pemaksaan-pemaksaan yang tidak perlu. Sayangnya, penonton-penonton Indonesia sendiri nampaknya masih belum siap dan lebih menjejalkan pilihannya pada pseudo-cinema semacam Nenek Gayung atau Kakek Cangkul..