15/05/12

SPACE



space | maulvi dm | mei 2012 | 17m29d


sinopsis

Seorang gadis mempertanyakan sang kekasih, menginterogasi hatinya dalam bisikan imajinasi. Apakah hubungan mereka baik-baik saja? Sang lelaki nampak semakin menjauh. Mengapa dia menjauh? Sang gadis tak hentinya bertanya. 

Space, tidak hanya bercerita tentang jarak di antara mereka, akan tetapi juga angkasa tempat mereka melayang terbang dan bermain-main dalam nasib dan khayal mereka. Ke manakah angkasa akan membawa permainan mereka melayang?


kru

Ide cerita : Agi Ekasaputro
Skenario : Maulvi DM & Nara Indra
Penata Seni : Lalik Lique
Kostum : Agi Ekasaputro
Manajer Produksi : Satwika Paramasatya
Sutradara : Maulvi DM
Kasting : Agi E. dan Satwika P.
Sinematografi : Maulvi DM
Kamera Dua : Ajeng Sekar
Editor : Maulvi DM


pemain

Carina Megarani
Rafael Bernardino
Reza Aditya
Benedictus Priyo Pratomo
Agi Ekasaputro
Danang Arif
Nara Indra


musik


"Silica Gel" - Maulvi DM
"Kathyusa Doll" - Maulvi DM
"Before Storm" - Maulvi DM
"Storm" - Maulvi DM

"Closer" - Maulvi DM

dan menggunakan dengan pamit

"Kita Adalah Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa" - Melancholic Bitch / Frau
"Mesin Penenun Hujan" - Frau (excerpt)


Penghargaan

~ Best Short Feature ~ Kompetisi Film Pendek Comission Komunikasi UNAIR, Surabaya 2012
~ Best Screenplay ~ Kompetisi Film Pendek Bemikom UIN SUKA, Yogyakarta 2012
~ Nominasi Best Short Feature ~  Kompetisi Film Pendek Bemikom UIN SUKA, Yogyakarta 2012
~ Nominasi Best Editing ~  Kompetisi Film Pendek Bemikom UIN SUKA, Yogyakarta 2012

_________________________________________________________________________________


catatan produksi

Motif dasar dari produksi ini adalah kompetisi. Pada awalnya adalah sebuah kompetisi film bertema 'woman empowerment' yang diadakan oleh Komunikasi UNAIR, jauh di Surabaya sana. Maka kemudian brainstorming diadakan untuk mencari cerita yang tepat untuk kompetisi ini. Bisa dikatakan, inilah proses pertama-tama dari brainstorming cerita yang secara terstruktur dan demokratis berhasil menghasilkan masukan yang sangat penting dan berpengaruh pada unsur cerita.

[Spoiler Alert] Karena pada awalnya niatan produksi ini hampir tidak ada nilai personal, maka masukan yang ada cenderung berimbang. Di sisi lain, ada beberapa referensi menarik yang muncul; Agi mengusulkan dunia game sebagai realm film ini. Danang, Danis, dan Dika (kalau tidak salah) juga mengusulkan konsep video youtube freddiew yang cukup akomodatif terhadap usul Agi. Dari dua tema inilah lalu kami mulai mengembangkan cerita.

Melakukan pembenaran, bermain game FPS demi survei efek spesial.


Agi yang mengusulkan game sebagai cerita, lalu didapuk untuk mengerjakan pre-story dari film ini, istilahnya umpanan, agar ceritanya bisa dimulai. Maka Agi menyelesaikannya dalam bentuk cerpen berjudul 'Urung Ono Judul'. Dari sini kemudian Maulvi mengembangkan cerita Agi tadi dalam wujud skenario. Beberapa bagian diubah, dan bagian-bagian lain dijadikan referensi untuk cerita. Pada awalnyapun, dalam cerpen Agi, konsep game yang dipakai adalah RPG, namun kemudian untuk kemudahan eksplorasi visual digeser menjadi FPS. Skenario ini pun kemudian diperhalus lagi oleh Nara. Bagian paling legendaris dari film ini, quote 'Apakah kamu tahu?' muncul dari tangan Nara.

Ini adalah beberapa storyboard, yang menggambarkan betapa demandingnya
sinematografi produksi ini.


Kami diberkati oleh lokasi-lokasi baru yang melimpah dan belum tereksplorasi di sekitar Fisipol, yaitu gedung baru Fisipol dan perpustakaan baru Fisipol, yang pada masa produksi sudah jadi, tapi belum ditempati. Mungkin jika ada yang perlu dikorbankan adalah karena belum dipasangnya pengatur udara di lokasi-lokasi tersebut, maka rasa panas dan sumuk yang terlalu tidak dapat terhindarkan, apalagi ketika pengambilan gambar berlangsung seharian penuh.

Kebodohan arsitektural ini nyata adanya di UGM. Kami menemukannya ketika survei lokasi.

Satu hal lagi yang baru dalam produksi ini adalah pertama kalinya kita menggunakan pemain-pemain yang bukan berasal dari lingkungan PTSF sendiri. Untuk mengejar karakter Tama dan Tama, kami sampai mencari pemain dari angkatan muda. Pemeran Nina, Carina, adalah mahasiswi HI angkatan 2010, yang berhasil diperoleh melalui lobi keras dari Satwika dan Agi dari tim kasting. Selain itu pula, untuk pertama kali juga kami melakukan rekaman suara di studio musik, untuk mengerjakan bagian voice-over. Ini mungkin perkara biasa, tapi ini menjadi sesuatu yang baru bagi kami yang sebelumnya tidak terlalu detail dengan produksi. 

Hal lain yang perlu ditambahkan adalah, kami mulai serius menggarap sisi legal formal dalam produksi Space. Lagu karya Frau, "Kita Adalah Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa" diperoleh melalui pendekatan terhadap Frau sendiri sebagai penggarap lagu, yang kemudian oleh Frau direkomendasikan juga untuk minta izin pada Melancholic Bitch yang menciptakan lagu tersebut. Akhirnya izinpun diperoleh, serta Melbi sendiri cukup bersemangat untuk memasukkan treknya ke dalam film ini.


trivia
  • Adegan paling awal diambil pertama kali, dan adegan terakhir diambil paling akhir.
  • Dan yang lebih keren lagi, adegan game dimulai dengan score berjudul 'Round One', dan score terakhir dari adegan game adalah 'Exit'.
  • Film keempat yang produksinya bersamaan dengan peristiwa bencana. Yang pertama, Reverie bencana Merapi, kedua, Bram The Stalker bencana Tsunami Jepang, ketiga, Psychic Girl bencana banjir bandang Bangkok, dan keempat, Space bencana Sukhoi Joy Flight.
  • Lebih dari 60 % waktu dalam paska produksi digunakan untuk mencari, mengumpulkan, memilih, mensortir, dan mengedit skoring.
  • Sejauh ini produksi fiksi PTSF dengan durasi terlama, 17 menit 28 detik, lima menit lebih lama dari ekspektasi pembuat.
  • (Spoiler) nama game yang ada dalam film ini adalah Armistice Area/AA. Sebelumnya, nama yang direncanakan adalah Combat Zone, tetapi sayangnya nama ini telah dimiliki game lain. Pada akhirnya tak ada dari dua nama ini yang muncul dalam film ini. Baik AA dan Combat Zone diambil dari nama game center tempat penulis berkenalan dengan dunia game online ketika SMP.
  • Adegan terakhir diambil oleh second unit yang dipimpin oleh Ajeng Sekar, karena sutradara dan kru cowok dilarang masuk kamar kos perempuan (berkebalikan dengan Move On).
  • Shiro melakukan kameo penting dalam film ini, meskipun orangnya sendiri tidak sadar.
  • Produksi kesekian PTSF yang direkam secara HD, tetapi produksi pertama yang melalui editing dan render akhir berkualitas HD.
  • Konsep game dalam cerita awal aslinya berupa MMORPG, namun dikarenakan keterbatasan sumber daya dan munculnya gagasan baru yang dianggap lebih irit sehingga diubah menjadi game FPS.
  • Konsep game dalam film ini terinspirasi dari Half Life Counter Strike dan Fallout New Vegas hanya saja tanpa senjata api.
  • Semua senjata tajam yang digunakan dalam film ini adalah asli dan (syukurnya) tidak ada masalah selama pengambilan gambar
  • Alasan mengapa karakter Rafael Bernardino menggunakan plester luka di dagu saat adegan dalam game adalah karena yang bersangkutan terluka ketika sewaktu bercukur pagi hari menjelang shooting dan plester tersebut (ternyata malah) menambah kesan sangar.
  • Semua lighting dalam film ini adalah cahaya ilahi (tidak menggunakan lampu dan alat bantu penerangan lainnya).

14/04/12

SEBELUMKAUMENIKAHIKU


sebelumkaumenikahiku | danistya k | mei 2012 | 3m24d


sinopsis

Seorang lelaki, seorang perempuan, keduanya berbicara satu sama lain. Banyak keraguan di sana. Banyak kenekatan di sana. Banyak garis yang akan ditembus. Seberapa pentingkah perbedaan harus dimusyawarahkan?


kru

Videografer : Danistya Kaloka


pemain

Lalik Lique
Maulvi DM



penggembira

Satya
Nara

_________________________________________________________________________________


catatan produksi

Setting proyek ini masih sama dengan lokasi think tank di mana Move On lahir, yaitu siang hari mendung penuh gerimis di emperan kantin perpustakaan fisipol UGM. Di teras obrolan tentang anak-anak HI yang sudah berpencaran, proyek-proyek idealistis yang secara defacto gagal, dan masa depan yang terus menghantui, Danis berkeyakinan untuk vakum dari dunia PTSF. Berhenti bikin film, berhenti maen kamera, berhenti bermain peran. Sebenarnya sudah beberapa kali dia berkeyakinan untuk vakum, tapi pernyataannya kali ini adalah yang paling diingat.

Dan pernyataan kevakumannya itu ditegaskan dengan merekam obrolan-obrolan tim PTSF yang ngelantur ke mana-mana. Sebentar kemudian, dia justru larut mengarahkan teman-temannya untuk bermain peran. 'Tanganmu begini', 'melangkahnya begini', 'coba lompat-lompat di situ'. Fenomena ini terus berjalan hingga satu jam-an, dan anehnya tidak ada yang bertanya apapun. Semua mengalir seperti daun yang ditiup angin.

kami berkutat hampir satu jam di depan rektorat untuk mengikuti keinginan Danis untuk vakum.

Dan beberapa hari kemudian, Danis datang sambil tersenyum-senyum sendiri. "Eh, filme wis dadi."

Lantas, bagaimana dengan vakumnya?

01/02/12

MOVE ON, GET A LIFE



move,on get a life | lalik lique | februari 2012 | 10m00d


sinopsis

Ada seorang gadis yang sedang tertegun di dalam kamar kosnya. Barang-barang semua sudah rapi terbungkus, siap meninggalkan tempat itu. Hanya beberapa foto yang masih terpasang, menyisakan cerita-cerita yang belum selesai.
  

kru

Ide cerita : Lalik Lique
Naskah : Maulvi DM
Manajer Produksi : Nara Indra
Penata Seni : Satwika Paramasatya
Kasting : Danistya Kaloka
Sinematografi : Maulvi DM
Kru tambahan : Agi Ekasaputro
Sutradara : Lalik Lique
Editor : Maulvi DM


pemain

Egiet W. Hapsari
Lalik Lique
Danang Arif


musik


digunakan tanpa pamit

"Confession of Emptyress" - Homogenic
"Transmutasi" - Homogenic

 _________________________________________________________________________________


catatan produksi

Cerita pertama:

Move On direncanakan pada masa-masa kritis di angkatan 2007 HI UGM, ketika mahasiswa-mahasiswa ini mulai panik dan ketakutan dengan masa depan mereka. Ada beberapa dari mereka yang tidak mau lepas dari masa lalu mereka, ada juga yang belum berani melaju ke masa depan mereka. Kekalutan ini pun juga muncul terutama dalam berbagai sosial media, di mana tiap-tiap mahasiswa dan eks mahasiswa mulai saling balas membalas dan debat mendebat, sampai tiba-tiba muncul sebuah teks dari Pilar yang mengomentari segala kekacauan ini dengan keras: Move On! Get a life!

Cerita kedua:

Di saat yang bersamaan, Lalik menghadapi kegalauan yang tak kalah hebatnya, setidaknya untuk dia. Kebingungan-kebingungannya tak terjawab, karena sebagian besar dari tim PTSF adalah lelaki, dan sudah jadi pemeo bahwa lelaki tidak bisa memahami perempuan. Curhat-curhatnya hanya menerawang ke angkasa, menyisakan tanda tanya di setiap jidat lelaki di PTSF. Apa ini soal cinta? Apa ini soal masa depan? Apa ini soal cari kerja? Apa ini soal persahabatan? Tak ada dari kami yang bisa menerka, apa yang gadis ini maksud, ya sudah, akhirnya kami menyodori saja kertas naskah pada Lalik. "Lik, tulis ceritamu dalam bentuk tulisan pendek, 1000 kata, TNR 12pt, spasi ganda. Nanti akan kami terjemahkan dalam bentuk film.

Cerita ketiga:

Kegalauan Lalik semakin memuncak, dia memutuskan untuk pindah kos. Momen inilah yang tidak kami sia-siakan, -bukan, bukan untuk membantu dia pindah kos- untuk dijadikan sebuah scene dalam film. Jarang-jarang ada orang pindah kos, dan jarang-jarang pindah kos itu bisa didramatisir.


Lalik menata dan mengecek properti syuting.

Yang sangat menantang adalah tentu saja karena ini adalah kos perempuan, dan yang kedua karena kita hanya bisa ambil gambar diam-diam sementara ibu kosnya berplesiran. Kami punya tenggat bahwa sudah tidak boleh ada bekas sisa-sisa pengambilan gambar ketika ibu kosnya pulang. Dan yang ketiga, karena, hampir sama dengan Dying Ducks #1, para aktris dan aktornya baru mengerti cerita dan naskahnya setelah sampai di lokasi. Yang lebih gila lagi, aktrisnya, Egiet Hapsari, baru ditemukan oleh tim casting (Danistya Kaloka) 12 jam sebelum pengambilan gambar dimulai.

Laliq, mencoba menjelaskan storyboard pada para kru dan pemain. Lihat, storyboard itu terpasang di springbed yang siap dipindahkan. Lihat juga, di belakangnya ada ibu-ibu dan mas-mas yang mengamati dengan pandangan awas kepada kami. Tepat di belakang Laliq ada Nara yang bersembunyi.

Laliq, mencoba menjelaskan storyboard pada para kru dan pemain. Lihat, storyboard itu terpasang di springbed yang siap dipindahkan. Lihat juga, di belakangnya ada ibu-ibu dan mas-mas yang mengamati dengan pandangan awas kepada kami. Tepat di belakang Laliq ada Nara yang bersembunyi.

Banyak tantangan ini, membuat Lalik sedemikian stresnya. Bayangkan, di satu sisi, dia sedang galau, di sisi lain dia sedang pindah kos (yang ini saja sudah bikin pusing), di sisi lain, dia sedang memimpin produksi film, di sisi lainnya lagi dia mendapat tekanan konstan bahwa ibu kosnya bisa datang kapan saja, dan di satu sisi lain yang terakhir ada banyak pria yang mengubek-ubek kamar kosnya dan tentu saja kos-kosan putrinya, yang bikin banyak penghuni lain berkerut dahi. Jika saat itu Lalik sedang kedatangan tamu bulanan, pasti tambah dramatis lagi keadaannya.

Cerita keempat:

Tertera pesan editor dalam karya jadi film ini:

"..dan bagaimana kau telah menjelma sebagai ibu tiri bagi kandunganmu sendiri.."
- Audrey Krietzlowick
  

trivia
  • Istilah Move On, Get A Life, berasal dari status seorang teman di facebook, [Pilar].
  • Hujan di akhir cerita adalah musibah yang berubah menjadi berkah.
  • Film ini dibuat dengan tekanan waktu yang sangat besar, karena hanya bisa dikerjakan selagi pemilik kos Lalik bepergian dengan keluarganya, dan harus selesai sebelum mereka kembali.